Surah Madaninyyah; Surah ke 55: 78 ayat
Mengenai firman-Nya: wa min duunihimaa jannataan (“Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni, berada di bawah keduanya.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Maksudnya, dua surga lainnya yang keutamaannya lebih rendah.” Dan disini, Allah Ta’ala berfirman: mud-haammataan (“kedua surga itu [terlihat] hijau tua warnanya”) maksudnya, kedua surga itu tampak berwarna hitam karena pengairan yang sangat melimpah.
Dan mengenai firman-Nya: mud-haammataan (“kedua surga itu [terlihat] hijau tua warnanya”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Keduanya tampak hijau tua kehitaman karena pengairan yang sangat melimpah.”
Nadl-dlaakhataan (“Yang memancar”). Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Artinya air yang sangat melimpah dan air yang mengalir itu lebih kuat dari air yang memancar.” Dan mengenai firman-Nya: Nadl-dlaakhataan (“Yang memancar”) adl-Dlahhak berkata: “Keduanya penuh dengan air yang terus mengalir dan tidak pernah putus.”
Fii himaa faakihatuw wa hakhluw wa rummaan (“Di dalam keduanya ada [macam-macam] buah-buahan dan kurma serta delima.” Firman Allah Ta’ala: wa nakhluw wa rummaan (kurma serta delima) ini tidak termasuk dalam bab ‘athaf (penyambungan) yang khusus pada yang umum, sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Bukhari dan selainnya. Penyebutan kurma dan delima itu secara khusus karena kemuliaannya atas buah-buahan lainnya. Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: fii hinna khairaatun hisaan (“di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.”) Ada yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan “khairaatun” adalah kebaikan yang sangat banyak lagi indah.” Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Dan ada pula yang menyatakan: “Kata ‘khairaatun’ merupakan jamak dari kata ‘khairah’ yang berarti wanita shalih yang sangat menawan, berakhlak mulia dan berwajah cantik.” Demikian yang dikemukakan oleh Jumhur Ulama.
“hisaan. Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“Yang cantik-cantik. Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”). setelah itu Allah berfirman: huurum maqshuuraatung fil khiyaam (“[bidadari-bidadari] yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.”) bidadari yang menundukkan pandangannya (sendiri) adalah lebih baik daripada bidadari yang ditundukkan pandangannya, meskipun semuanya sangat menggiurkan.
Dan mengenai firman Allah Ta’ala: fil khiyaam (“di dalam tenda-tenda”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdillah bin Qais, dari ayahnya bahwa Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat rumah yang terbuat dari mutiara berlubang yang luasnya enampuluh mil. Pada setiap sudutnya terdapat penghuni yang dapat melihat orang lain, yang mereka selalu dikelilingi oleh orang-orang Mukmin.”)
Hadits tersebut juga diriwayatkan dari hadits Abu ‘Imran, dan ia mengatakan: “tiga puluh mil” dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu ‘Imran.
Dan firman Allah Ta’alaa: lam yathmitshunna ingsuw walaa jaann (“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula oleh jin.”) penafsiran ayat ini telah diberikan sebelumnya.
Dan firman-Nya lebih lanjut: muttaki-iina ‘alaa rafrafin khudlriw wa ‘abqariyyin hisaan (“mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: ar-rafrafu bermakna yang menjadi tempat penimpanan.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, adl-Dlahhak dan lain-lain. Sedangkan al-‘Ala’ bin Zaid mengatakan: ar-rafrafu ini seperti tempat-tempat penyimpanan di dekat ranjang yang mudah dijangkau.”
Dan firman Allah Ta’ala: wa ‘abqariyyin hisaan (“dan permadani-permadani yang indah”) Ibnu ‘Abbas, Qatadah, adl-Dlahhak dan as-Suddi mengatakan: “al-‘abqariyyun berarti bantal.” Sa’id bin Jubair berkata: “Yakni bantal yang paling bagus.” Sedangkan al-Khalil bin Ahmad mengatakan: “Setiap sesuatu yang berharga dari laki-laki dan selainnya menurut masyarakat Arab disebut sebagai ‘abqari’. Dan darinya, muncullah sabda Rasulullah saw mengenai ‘Umar: “fa lam ara ‘abqariyyan yafrii faryahu” (“Aku tidak pernah melihat seorang jenius yang dapat menghasilkan karyanya seperti dia.”).
Apapun ukurannya, maka sifat penghuni kedua surga yang pertama lebih tinggi dan lebih luhur daripada sifat yang ada pada dua surga lainnya. Dimana mengenai dua surga yang pertama, Allah Ta’ala berfirman: “Muttaki-iina ‘alaa furusyim bathaa-inuhaa min istabraq” (“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.”) dimana Dia menyifati bagian dalam permadani dan tidak menyinggung bagian luarnya, dan Dia hanya memuji bagian dalamnya, yang sudah barang tentu bagian luarnya lebih indah. Kemudian Dia menyifati para penghuninya dengan kebaikan, yang ia merupakan tingkatan dan puncak tertinggi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril ketika ia ditanya tentang Islam, lalu iman dan kemudian ihsan. Demikian itu di antara beberapa sisi pengutamaan dua surga pertama atas dua surga lainnya. Dan kita memohon kepada Allah al-Kariim al-Wahhab agar Dia menjadikan kita semua termasuk penghuni surga yang pertama.
Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: tabaarakasmu rabbika dzil jalaali wal ikraam (“Mahaagung Nama Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.”) maksudnya, Dia-lah yang memang berhak dibesarkan sehingga tidak boleh didurhakai, dan berhak dimuliakan sehingga Dia layak diibadahi, serta berhak disyukuri sehingga Dia tidak boleh diingkari, dan Dia juga berhak diingat sehingga tidak layak untuk dilupakan.
Firman-Nya: dzil jalaali wal ikraam (“Yang mempunyai kebesaran dan karunia”) yakni yang mempunyai keagungan dan kebesaran. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda’, ia bercerita: “Rasulullah saw. bersabda: “Ajillullaaha yaghfirlakum” (“Muliakanlah Allah, niscaya Allah memberikan ampunan kepada kalian.”).
Dan dalam hadits yang lain disebutkan: “Sesungguhnya di antara banyak pengagungan Allah adalah memuliakan orang muslim yang beruban, orang yang mempunyai kekuasaan, serta orang yang membawa (menghafal) al-Qur’an secara tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak pula terlalu jauh (pelit) darinya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Amir, ia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Biasakanlah mengucapkan: yaa Dzal Jalaali wal Ikraam(yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan).” Diriwayatkan oleh an-Nasa-i, dari hadits ‘Abdullah bin al-Mubarak.
Dan ucapan Ibnu Mas’ud: “Biasakanlah mengucapkan: “Biasakanlah mengucapkan: yaa Dzal Jalaali wal Ikraam(yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan).” Maksudnya adalah terus menerus karena “al-idzodzuu” sama dengan “al-ilhaah”. Mengenai masalah tersebut Ibnu Katsir mengatakan: “Makna “al-idzodzu” ini saling berdekatan. Wallahu a’lam.
Dan dalam kitab Shahih Muslim dan kitab-kitab as Sunan yang empat juga disebutkan dari hadits ‘Abdullah bin al Harits, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Jika Rasulullah hendak salam, beliau tidak duduk –yakni setelah shalat- kecualidengan sekedar membaca: allaahumma antas salaam wa mingkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.” (Ya Allah, Engkau Mahasejahtera, dari-Mu-lah kesejahteraan. Mahasuci Engkau, wahai Rabb yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”).
Demikianlah akhir penafsiran surah ar-Rahman. Walillaahil hamdu wal minnah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar