Kamis, 31 Oktober 2013

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman (5)


Tafsir Ibnu Katsir; Surah Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah);
Surah Madaninyyah; Surah ke 55: 78 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan , Ahmad bin ‘Abdul Malik memberitahu kami, ‘Abdurrahman bin Abi Shahba’ memberitahu kami, Nafi’ Abu Ghalib al-Bahili memberitahu kami, Anas bin Malik memberitahu kami, ia bercerita: “Rasulullah bersabda: ‘yub’atsunnaasu yaumal qiyaamati was samaa-u tathisy-syu ‘alaihim’” (Umat manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat, sedang langit memercik hujan rintik kepada mereka).

Al-Jauhari mengatakan: “ath-thisy-syu berarti hujan rintik.” Adl-Dlahhak menceritakan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah Ta’ala: wardatang kaddihaan (menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak). Ia mengatakan: “Yaitu, kulit yang disamak berwarna merah.” Abul Jauza’ berkata: “Yakni, dalam minyak yang jernih.” Ibnu Juraij mengemukakan: “Langit menjadi seperti minyak yang mencair. Dan itu terjadi ketia ia terkena panasnya Neraka jahannam.”

Dan firman Allah Ta’ala: fa yauma-idzil laa yus-alu ‘ang dzammbihii ingsuw walaa jaann (“Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.”). Hal itu dalam satu keadaan, dan di sana ada keadaan lain di mana makhluk akan ditanya tentang semua amal perbuatan mereka. Allah Ta’ala berfirman: fa wa rabbika lanas-alannahum ajma’iin. ‘ammaa kaanuu ya’maluun (“Maka demi Rabb-mu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”) (al-Hijr: 92-93).

Oleh karena itu mengenai firman-Nya: fa yauma-idzil laa yus-alu ‘ang dzammbihii ingsuw walaa jaann (“Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.”) Qatadah mengatakan: “Sudah ada pertanyaan, lalu mulut-mulut kaum dikunci sehingga yang berbicara adalah tangan dan kaki mereka untuk memberitahukan apa yang dulu pernah mereka kerjakan. Seakan-akan hal itu terjadi setelah mereka diperintahkan menuju neraka. Dan saat itu mereka sudah tidak ditanya tentang dosa-dosa mereka, tetapi mereka digiring menuju neraka dan kemudian dilemparkan ke dalamnya, sebagaimana yang difirmankan-Nya: yu’raful mujrimuuna bisimaahum (“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya.” Yaitu dengan alamat-alamat yang tampak pada mereka.”

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan: “Mereka dikenal dengan hitamnya wajah mereka dan birunya warna mata mereka.” Berkenaan dengan hal ini, aku (Ibnu Katsir) katakan: “Yang demikian itu sama seperti orang-orang Mukmin, mereka akan dikenal dengan wajahnya yang putih cemerlang (yang tampak) pada bekas wudlu.”

Dan firman-Nya: fayu’khodzu binnawaashii wal aqdaam (“Lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.”) maksudnya, Zabaniyah menyatukan ubun-ubun dan kedua kaki orang kafir kemudian dilemparkannya ke dalam neraka.

Al-A’masy meriwatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Maka, ubun-ubun dan kedua kaki mereka dipegang, lalu dipecahkan seperti pecahnya kayu bakar di perapian.” Adl-Dlahhak berkata: “Ubun-ubun mereka disatukan dengan kedua kaki mereka pada satu rantai dari belakang punggung mereka.”

Dan firman Allah Ta’ala: haadzihii jahannamul latii yukadz-dzibu bihal mujrimuun (“Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.”) maksudnya, inilah neraka yang dulu kalian dustakan keberadaannya. Sekarang ia sudah hadir dan kalian menyaksikannya sendiri secara langsung. Yang demikian itu dikatakan kepada mereka sebagai penghinaan, celaan, sekaligus merendahkan mereka.

Dan firman-Nya lebih lanjut: yathuufuuna bainahaa wa baina hamiimin aan (“Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.”) maksudnya, terkadang mereka diazab di Neraka Jahim dan terkadang mereka disiram dengan air mendidih. Yang dimaksud dengan “al-hamiim” adalah minuman yang berwujud seperti tembaga cair yang dapat memutuskan pencernaan dan usus.

Firman-Nya: hamiimin aan (“air yang mendidih yang memuncak panasnya”) yakni yang sangat panas sekali, yang tingkat kepanasannya sudah berada pada puncaknya yang tidak mungkin disentuh karena panas itu. Dan mengenai firman Allah Ta’ala: yathuufuuna bainahaa wa baina hamiimin aan (“Mereka berkeliling di antara keduanya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Maksdunya, panasnya telah memuncak mencapai puncak titik didih.” Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Sa’id bin Jubair, adl-Dlahhak, al-Hasan, ats-Tsauri, dan as-Suddi. Sedangkan dari al-Qurthubi terdapat riwayat lain: hamiimin aan (“Air mendidih yang memuncak panasnya”) yakni hadir. Dan itu pula yang menjadi pendapat Ibnu Zaid. Mengingat pemberian hukuman kepada orang-orang bermaksiat yang berbuat dosa dan pemberian nikmat kepada orang-orang yang beriman ini merupakan karunia, rahmat, keadilan, dan kelembutan-Nya terhadap makhluk-Nya, dan peringatan-Nya kepada mereka akan adzab dan siksa-Nya yang akan menjatuhkan mereka dari kemusyrikan dan kemaksiatan dan lain-lain, Dia berfirman seraya mempertanyakan hal itu kepada seluruh makhluk-Nya: fa bi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”).

“46. Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.47. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,48. Kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.49. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 50. Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir 51. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 52. Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan. 53. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(ar-Rahman: 46-53)

Ibnu Syaudzab dan ‘Atha’ al-Khurasani mengatakan: “Ayat ini: wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan (dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua Surga) diturunkan berkenaan dengan Abu Bakr.” Ibnu Abi Hatim menceritakan dari ‘Athiyyah bin Qais mengenai firman Allah Ta’ala: wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan (dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua Surga) turun berkenaan dengan orang yang berkata: “Bakarlah aku dengan api, mudah-mudahan Allah menyesatkanku.” Kemudian dia bertobat selama satu hari satu malam setelah ia mengucapkan hal tersebut. Setelah itu Allah menerima tobatnya dan memasukkannya ke dalam surga. Tetapi yang benar bahwa ayat ini bersifat umum sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya. Allah Ta’ala berfirman: “wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan (dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua Surga) yakni di hadapan Allah swt. pada hari kiamat kelak. Wa nahan nafsa ‘anil hawaa (“Dan menahan diri dari mengikuti hawa nafsu”) (an-Naazi’aat: 40).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar